Posts

Sebuah Refleksi: Kenapa Harus Mencari Diri Sendiri Jika Kau Sudah Ada

Image
       T erikat dan tertuntut dengan lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan atau hubungan sosial kita dengan oranglain seringkali membuat kita bertanya-tanya dengan cemas dan khawatir siapa kita sebenarnya? Bagaimana diri kita? Apa yang sebenarnya kita mau? Refleksi dan pantulan sesuatu atau orang lain kadang membuat kita berpikir: oh inilah aku, ini yang aku mau. Lalu berjalanannya waktu semua memudar dan hari berjalan dengan kebosanan. Meski mungkin telah ratusan tahun ajaran dan anjuran mengenali diri sendiri telah digaungkan, kita tidak pernah berhenti belajar untuk mengenali diri sendiri, namun petualangan dan sikap mawas diri membawa kita ke tempat lain. Kita lagi-lagi diarahkan untuk mencari dan mengungkapkan diri kita. Di jaman yang bebas, di mana perubahan yang pasti, dan tuntutan profesionalime dalam setiap hal, pencarian jati diri seakan menjadi tugas baru dalam kehidupan kita. Banyak orang yang telah berkemapanan materi maupun karir merasa telah mengab...

Presiden atau Bawang Bombai?

Image
Teringat beberapa tahun lalu, dengan aksen Jawa, seorang laki-laki kurus yang tubuhnya seperti terlalu banyak kerja, kerja, kerja itu berkata kurang lebih terdengar seperti ini: "Kalau ada orang tidak salah, kemudian dimasukkan sel, ngomong ke saya, saya urus. Tapi jika salah, ya harus dihukum karena negara kita negara hukum."   Meski diucapkan dengan tujuan menyangkal fitnah-fitnah dari lawannya kala itu. Iming-iming soal penegakan hukum tersebut seakan mengingatkan sebuah Janji 6 tahun silam yang dianggapnya sebagai beban politik negara yang harus diselesaikan, yakni berkomitmen menegakkan hukum dengan memprioritaskan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu dan menghapus impunitas.  Itu adalah salah satu poin dalam sembilan agenda visi-misi yang disebutnya dengan nama Nawa Cita, beberapa kasus yang dimaksud adalah: Kasus kerusuhan Mei 1998 Kasus Trisaksi Semanggi I Semanggi II Kasus penghilangan paksa Kasus Talangsari Tanjung Priuk dan Tragedi 1965. ...

Bahasa yang Lebih Menakutkan dari Senjata

Image
Mencegah darurat militer sebenarnya tak jauh berbeda dengan mencegah banjir. Sama-sama membutuhkan kerja sama, kesadaran, dan kesigapan. Namun, ketika seorang influencer menulis sebuah kalimat, makna kalimat itu justru menimbulkan perdebatan: apakah ia sedang berterima kasih atau menyindir? Dalam podcast Total Politik terbaru, Soleman B. Ponto , seorang purnawirawan perwira tinggi TNI sekaligus mantan Kepala BIN ( Badan Intelijen Negara ), menyatakan bahwa kalimat Ferry Irwandi dalam postingannya tertanggal 31 Agustus 2025 yang berbunyi, “ Darurat Militer hari ini bisa dicegah. Terima kasih kerja keras dan kerja samanya, teman-teman,” adalah sebuah pernyataan yang mencemarkan nama baik TNI. Menurutnya, karena pada hari itu tidak pernah terjadi Darurat Militer (DM), maka merupakan fitnah saat Ferry Irwandi tiba-tiba menyebut DM. Tidak banyak yang bisa dibahas sebenarnya dalam perdebatan ini, tetapi cukup menarik jika dipandang dari segi bahasa. Seperti kita tahu, dalam perjal...

Artis Caleg: Kapabilitas atau Popularitas?

Image
Setelah resmi dibuka pada (04/07/17), KPU (Komisi Pemilihan Umum) menutup pendaftaran bakal calon legislatif pada Selasa (17/07/18). Tak berbeda dari sebelumnya, pemilihan calon legislatif mendatang juga akan diramaikan oleh tokoh-tokoh dari dunia hiburan. Sejumlah artis mencalonkan diri dengan bermodal popularitas. Dikutip dari Kompas.com : “Makanya kami memilih banyak figur yang memenuhi syarat tadi. Kompetensinya, integritasnya, itu syarat penting untuk politik nasional. Dan terakhir, elektabilitasnya bagus. Elektabilitas enggak ada dan enggak terpilih, nanti sayang,” ujar Jhony, Sekjen Partai Nasdem , yang membantah bahwa partainya paling banyak menggaet calon legislatif dari kalangan artis bermodal popularitas semata, lantaran khawatir terhadap ambang batas parlemen dalam Pemilu 2019 . Sebanyak 54 artis tercatat akan mewarnai jagat politik Indonesia. Di antaranya: 27 orang diusung oleh Partai Nasdem, 13 orang oleh PDIP , 7 orang oleh PKB , 5 orang dari Partai Berkarya , 4 oran...

Lelaki di Pikiranku

Image
Seorang laki-laki hidup di dalam pikiranku dengan mengkonsumsi segala hal yang sebenarnya membuatku bahagia. Seperti orangtua, baju-baju, kosmetik, uang, pendidikan dan kegemaranku membaca buku . Setiap aku memikirkan hal lain selain dia, ia terus melahapnya tanpa ragu. Hingga suatu hari ia telah tumbuh begitu gemuk dan mungkin telah merasa jenuh berada di sana. Ia pergi tanpa meninggalkan apapun di pikiranku.

Keraguannya Pada Dewa

Image
Setelah beberapa hari, aku masih sering memperhatikannya. Ia berbaring di atas matras keras yang tidak lebih tebal dari novel 500 halaman yang sedang kubaca. Matanya selalu memerah, membengkak. Wajahnya muram, dan pandangannya penuh kemarahan, terarah lurus ke patung Zhao Gong Ming yang berdiri di atas Sandoi . Cahaya pagi mulai masuk dari celah tirai, memberi isyarat bahwa hari telah berganti. Ia bangkit dengan gerakan malas, berjalan menuju kamar mandi, lalu kembali dengan wajah bersih—cantik, seperti merpati putih yang terbang menuju matahari. Mata sipitnya tampak redup dan tenang, seperti cahaya lampu minyak yang hampir padam. Namun, arah pandangnya tetap sama: altar dengan sesajen dan dua batang dupa yang masih mengepul pelan. Tubuhnya subur, seperti pohon rindang di pinggir jalan yang terlihat dari ruang kantor Chan Agnesi ini. Pohon yang, ketika hujan atau panas datang, orang-orang akan berlari berebut untuk berteduh di bawahnya. Sambil berjalan dengan sedikit menyeret kaki ...

Matinya Filsafat, Matinya Kepakaran: Dunia Tanpa Pengetahuan yang Bijaksana

Image
  Matinya Kepakaran, Matinya Filsafat : Dunia Tanpa Pengetahuan yang Bijaksana Bunga Dahlia tumbu liar di Bromo   Foto: Anis Safitri Dewasa ini, media sosial kita diramaikan oleh argumen seorang influencer berpengaruh, Ferry Irwandi . Dalam podcast “ Pendidikan dan Cacat Pikir Zero Sum Game Bitcoin ” bersama Timothy Ronald , Ferry Irwandi menyatakan bahwa jurusan filsafat harus dihapus , karena menurutnya sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Ia juga berargumen secara teknologis bahwa sains dan teknologi modern telah mengambil alih peran filsafat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan besar. Oleh karena itu, menurutnya, tidak perlu lagi ada jurusan khusus filsafat. Argumen ini mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak—baik dari netizen maupun dari para pakar keilmuan filsafat. Sebagai pengikutnya, saya merasa berada di ambang keraguan: apakah saya harus menyepakati atau menolak argumen tersebut? Saya pun mulai bertanya-tanya, apakah bijak jika seorang Ferry—pakar i...