Sebuah Refleksi: Kenapa Harus Mencari Diri Sendiri Jika Kau Sudah Ada

     


Terikat dan tertuntut dengan lingkungan keluarga, lingkungan pekerjaan atau hubungan sosial kita dengan oranglain seringkali membuat kita bertanya-tanya dengan cemas dan khawatir siapa kita sebenarnya? Bagaimana diri kita? Apa yang sebenarnya kita mau?
Refleksi dan pantulan sesuatu atau orang lain kadang membuat kita berpikir: oh inilah aku, ini yang aku mau. Lalu berjalanannya waktu semua memudar dan hari berjalan dengan kebosanan. Meski mungkin telah ratusan tahun ajaran dan anjuran mengenali diri sendiri telah digaungkan, kita tidak pernah berhenti belajar untuk mengenali diri sendiri, namun petualangan dan sikap mawas diri membawa kita ke tempat lain. Kita lagi-lagi diarahkan untuk mencari dan mengungkapkan diri kita.
Di jaman yang bebas, di mana perubahan yang pasti, dan tuntutan profesionalime dalam setiap hal, pencarian jati diri seakan menjadi tugas baru dalam kehidupan kita. Banyak orang yang telah berkemapanan materi maupun karir merasa telah mengabaikan diri mereka sendiri, tetapi saat mereka melakukan usaha-usaha introspeksi dan fokus untuk menemukan diri mereka, ternyata itu tak menghasilkan apapun: Diri mereka yang sejati tidak juga ditemukan.
Akhirnya mereka menyesali dan mendambakan waktu yang telah hilang dalam pencarian jati diri. Pertanyaannya adalah mengapa pencarian jati diri terasa begitu memikat namun sekaligus samar?
Karena Jati diri seringkali digambarkan sebagai tempat atau waktu yang konsisten, ia dikerdilkan menjadi sebuah image, sesuatu yang digambarkan sebagai kebenaran atau kesungguhan yang bisa dikagumi oleh oranglain. Ia tidak lagi menjadi sebuah proses dan waktu, perjalan dan permulaan.
Padahal jati diri bisa ditemukan tetapi tidak dapat dipertahankan. Ia tidak selalu terasa baik, dan tidak juga terasa buruk, diciptakan atau dibebaskan. Kita merasakannya sekaligus dapat melupakannya, kita tidak mengenalinya saat kita melihatnya. Ia tidak ditentukan oleh kekonsistenan dan keakuratan, justru ia akan bersifat spontan dan terasa merdeka dalam mengeluarkannya. Ia akan lebih jujur dari sebuah kemawasan dan pertimbangan atas domains dari luar diri kita.
Itu sebabnya rasa jujur pada diri sendiri dan menemukan tempat yang membuat kita puas, bebas dan nyaman akan membuat kita berjalan pada diri kita, dan kita akan menemukan kasih sayang yang membuat kita berhenti terobsesi pada domain-domain dari luar diri kita.

Comments

Popular posts from this blog

Langkah-langkah Melanjutkan perkuliahan Setelah Cuti di Universitas Terbuka

Bahasa yang Lebih Menakutkan dari Senjata

Matinya Filsafat, Matinya Kepakaran: Dunia Tanpa Pengetahuan yang Bijaksana